Pawai Obor dan Lentera Ramadhan Siap Digelar Pada 16 Februari Mendatang
Singkawang, Kalbar [SKN] – Adanya informasi berkembang di Kota Singkawang perihal belum pastinya tanggal pelaksanaan PAWAI OBOR DAN LENTERA RAMADHAN membuat calon peserta dan masyarakat bingung dan menanti kepastiannya.
Melihat keadaan ini, Awak Media berinisiatif menghubungi dan berhasil menemui Ketua Panitia (Dedi Mulyadi) yang setiap tahun menyelenggarakan kegiatan Pawai Obor untuk menanyakan kepastian tanggal pelaksanaan Pawai Obor dan Lentera Ramadhan tahun ini.
Dedi mengatakan bahwa tidak ada yang berubah dari hari pelaksanaan Pawai Obor dan Lentera Ramadhan yang kita lakukan setiap tahunnya, sudah 5 kali berturut-turut kita melaksanakannya, dan ini tahun ke V bahwa pelaksanaan Pawai Obor dan Lentera Ramadhan selalu kita lakukan di penutupan bulan Sya’ban atau bulan ke 8 tahun Hijiriyah, dan suka cita menyambut datangnya bulan suci Ramadhan. Tepatnya 1 hari sebelum Ramadhan Muhammadiyah atau 2 hari sebelum Ramadhan NU (Nasional).
Ini adalah nilai sakral yang kita lakukan dari Adat Budaya masyarakat Melayu Sambas dulunya, dimana setiap penutupan atau akhir bulan Sya’ban dulunya budaya melayu kita saat menjelang malam akan selalu menyalakan obor atau pelita, bahkan dibeberapa masyarakat dulunya pada malam itu diadakan pembuatan kue Pasung yaitu sejenis tepung yang dimasak dengan gula merah dan dibalut melingkar mengerucut dengan daun pisang berbentuk pasung. Kue-kue itu dibuat oleh masyarakat dan saling berbagi atau tukar-tukaran untuk dimakan bersama-sama.
Itulah budaya leluhur yang kita kenal dengan Likuran Penutupan Sya’ban, itu selalu dilakukan dulunya, dan tidak melanggar syariat Islam ataupun jauh dari perbuatan Syirik.
Budaya sakral yang pernah dilakukan masyarakat adat melayu jaman dulu kini mulai terkikis dengan peradaban global dan perkembangan jaman.
Tapi kita berkomitmen untuk menjaga budaya itu tetap ada dan pelan-pelan mewariskannya kepada generasi penerus melaksanakannya dalam sebuah acara massal seperti Pawai Obor dan Lentera Ramadhan ini, ucap Dedi Mulyadi yang juga dikenal sebagai Panglima BALA KOMANDO MELAYU.
Selain itu di bulan Ramdhan setiap malamnya adat masyarakat dulu itu terus menambah obor atau pelita untuk menandai hitungan hari dalam bulan suci Ramadhan. Nahh, budaya-budaya ini harus kita sampaikan dan tanamkan kepada generasi penerus kita agar budaya ini dapat diwariskan dan dilakukan dengan budaya massal seperti Pawai Obor dan Lentera Ramadhan ini.
Lebih lanjut saat ditanya tentang adanya perbedaan informasi yang mengatakan bahwa pelaksanaan Pawai Obor dan Lentera Ramadhan dipercepat tanggal 14 Februari 2026 untuk menghindari bersamaan dengan Malam Tahun Baru IMLEK 2577 Kongzili, Dedi mengatakan bahwa informasi ini tidak benar.
Agar dilaksanakan tanggal 14 Februari itukan hanya saran dan pendapat dari beberapa Tokoh Ulama kita di MUI yang disampaikan melalui Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Singkawang.
Yaa itu saran saja sih, dan kita sudah jelaskan saat pertemuan dengan Kakan Kemenag, Kadis Pendidikan & Kebudayaan dan bersama Wakil Walikota Singkawang.
Semua sudah kita jelaskan itu, bahwa :
1. Sudah setiap tahunnya selama 4 tahun berturut-turut bahwa Pawai Obor Dan Lentera Ramadhan itu kita laksanakan sebagai nilai sakral penutupan likuran bulan Sya’ban dan menyambut datangnya bulan suci Ramadhan, yakni 1 hari sebelum Ramadhan warga Muhammadiyah, atau 2 hari sebelum Ramadhan warga NU (Nasional).
2. Kita tidak bisa mundur 1 hari di tanggal 17 Februari karena hal itu besoknya sudah Puasa Ramadhan bagi warga Muhammadiyah.
3. Kita tidak bisa majukan menjadi tanggal 15 Februari karena malam itu akan bertempur dengan Acara pembukaan Seni Budaya Tionghua di Kridasana yang dilakukan oleh Panitia IMLEK dan CAPGOMEH.
4. Bahwa bertepatannya pelaksanaan Pawai Obor dan Lentera Ramadhan dengan Malam Tahun Baru IMLEK itu merupakan tanda alam untuk membuktikan bahwa masyarakat Singkawang adalah harmonis dan toleransi. Bukan kita yang minta ini, bahkan perlu waktu puluhan tahun lagi untuk bisa bersamaan seperti ini, bahkan kita sudah ada lagi didunia ini.
5. Jika kita majukan lagi di tanggal 14 Februari maka nilai sakral penurupan Likuran Bulan Sya’ban dan sakral nya menyambut datangnya bulan Suci Ramdhan tidak akan kena, alias kesan sakral dan makna Pawai Obor nya akan hilang. Tentu kita harus paham tentang adat budaya yang ada di masyarakat melayu ini.
6. Jika hanya karena malam Pawai Obor dan Lentera Ramadhan ini bertepatan dengan malam Tahun Baru IMLEK lalu malam pelaksanaan Pawai Obor ini kita majukan atau mundurkan pelaksanaannya, lantas bagaimana nanti di tahun 2029 yang menurut perhitungan kalender bahwa Malam Takbiran IDUL FITRI bersamaan dengan malam Tahun Baru IMLEK ditahun itu nanti, apakah perayaan Malam Takbiran IDUL FITRI itu juga harus kita cepatkan atau mundurkan demi menghindari pertepatan perayaan malam itu ? Nahh, kesan-kesan seperti inilah justru membuat kita sangat tidak toleransi dan tidak harmonis.
Semua sudah kita jelaskan kepada Tokoh-Tokoh, dan Ulama MUI kita melalui Kepala Kemenag Kota Singkawang (Bp. H. Ustadz MUHLIS, S.Pd, M.Ag). Beliau sangat memahami dan berjanji akan menjelaskannya kepada Tokoh-Tokoh dan Ulama MUI Kota Singkawang.
Menanggapi adanya opini yang berkembang yang sengaja diciptakan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab bahwa seolah-olah Pelaksanaan PAWAI OBOR Dan LENTERA RAMADHAN 1446 H sengaja untuk membuat semarak perayaan Malam Tahun Baru IMLEK 2577 Kongzili itu adalah pendapat yang keliru, cara berpikir yang dangkal, yaa sangat dangkal kalau berpikir demikian, kita sayangkan sekali kepada orang-orang yang berpikir dan menebar issue demikian.
Kita harus paham, bahwa ini adalah 2 (dua) acara kebudayaan yang berbeda, hanya saja secara kebetulan bersamaan di malam yang sama namun jam nya berbeda, PAWAI KELILING OBOR itu jam 19:30 s/d jam 23:00, itu di Mess Daerah dan bubar di Masjid Raya, sedangkan Perayaan Malam Tahun Baru IMLEK dengan PESTA KEMBANG API itu dilaksanakan pada jam 23:30 s/d 24:00 (00:00) itu di halaman Tae Pa Kung pasar depan Rusen.
Ini adalah 2 tempat yang berbeda dan waktu yang berbeda, hanya saja di malam yang sama.
Tentu ini kita syukuri sebagai 2 kegiatan budaya yang saling mendukung dan meramaikan, memberi kesan toleransi dan harmonis yang dalam, sebagai wujud nyata Kota Tertoleransi se-Indonesia.
Apakah ada yang salah dari sikap harmonis dan toleransi ini ? …tutup Dedi sambil senyum kecil sembari mengajak Awak Media menyantap makanan yang telah di hidangkan di salah satu rumah makan di Singkawang.
( Heruskn86 )
