Kelangkaan Solar Bersubsidi di Beberapa SPBU di Kalbar Menjadi Keluhan Pelaku Usaha Transportasi
Pontianak, Kalbar [SKN] – Persoalan distribusi bahan bakar minyak (BBM) jenis solar di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) masih menjadi keluhan para pelaku usaha transportasi dan pemilik armada. Meski secara harga dinilai masih normal, namun ketersediaan dan mekanisme distribusi di lapangan disebut belum sepenuhnya berjalan merata.
Muhammad Andi, salah satu pelaku usaha angkutan, mengungkapkan bahwa kelangkaan solar masih terjadi di beberapa SPBU. Kondisi tersebut memaksa para pengemudi dan pemilik armada harus mengantre sejak dini hari demi mendapatkan bahan bakar.
“Kalau bagi saya pribadi, antre sejak subuh tidak jadi masalah selama solar masih bisa didapat. Tapi faktanya, banyak teman-teman di lapangan yang masih kesulitan karena solar di beberapa SPBU memang langka,” ujar Muhammad Andi, Rabu (28/01/2026)
Ia menjelaskan, saat ini untuk mendapatkan solar di sejumlah SPBU tidak cukup hanya datang dan mengantre, melainkan harus melakukan request terlebih dahulu serta memiliki akses atau mengenal pemilik SPBU.
Kalau tidak kenal pemilik SPBU atau tidak punya akses, hampir bisa dipastikan tidak akan dapat solar. Ini yang menjadi persoalan utama,” jelasnya.
Menurut Andi, pembatasan pengisian juga menjadi kendala serius. Setiap kendaraan hanya mendapatkan jatah tertentu, mulai dari 20 liter hingga maksimal 100 liter, tergantung kebijakan SPBU dan ketersediaan stok.
Saat ini, Andi
mengoperasikan sekitar 27 unit armada yang aktif bergerak setiap hari. Dengan jumlah tersebut, ia menilai tidak mungkin hanya mengandalkan satu SPBU.
Kami terpaksa berpencar. Beberapa SPBU yang pemiliknya kami kenal kami prioritaskan. Biasanya kami bagi, misalnya satu SPBU hanya untuk lima mobil, sisanya ke SPBU lain, supaya semua armada tetap bisa jalan,” ungkapnya.
Ia juga menegaskan bahwa armada yang beroperasi tidak sepenuhnya milik pribadi. Sebagian digunakan bersama rekan-rekan lain, sehingga pembagian solar harus dilakukan secara adil agar semua tetap bisa beroperasi.
Muhammad Andi berharap pihak terkait, baik SPBU maupun Pertamina melalui Patra Niaga, dapat melihat kondisi riil di lapangan, bukan hanya berdasarkan laporan administratif.
“Harapan saya, ada perhatian serius dan evaluasi. Patra Niaga sebenarnya sudah tahu kondisi ini, tapi di lapangan persoalan terus berulang. Pelaksanaannya sangat bergantung pada kebijakan pemilik SPBU sebagai penyalur,” pungkasnya.
Pewarta : Sri Astuti
